11 September 2018

DALIL BAHAWA ALLAH BERBICARA DENGAN SUARA

DALIL BAHAWA ALLAH BERBICARA DENGAN SUARA : MENATIJAHKAN AL QUR'AN ADALAH PERKATAAN-NYA. JUGA BANTAHAN KEPADA KESESATAN AQIDAH ASYA'IRAH YANG MENGATAKAN AL QUR'AN ADALAH MAKHLUK DAN ALLAH BERBICARA TANPA SUARA

Nabi bersabda: “Allah akan mengumpulkan hamba-hamba pada hari kiamat, kemudian Allah memanggil mereka dengan suara yang terdengar dari jarak jauh seperti suara yang terdengar dari jarak dekat: Aku adalah Al Malik (Maharaja), Aku adalah Ad Dayyaan (Maha Membalas)…” (Riwayat Al Bukhari)

Kemudian Imam Bukhari menerangkan maksud hadis di atas dalam kitab beliau yang menjadi bantahan kepada kelompok pengagung akal dan filsafat: “Dan sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memanggil dengan suara, di mana orang yang jauh mendengar suara ini seperti orang yang dekat, maka ini tidak mungkin dimiliki oleh selain Allah ‘Azza wa Jalla, dan ini merupakan dalil bahawa suara Allah tidak sama dengan suara-suara makhluk, kerana suara Allah didengar dari jarak jauh seakan-akan didengar dari jarak dekat.” (Khalqu Af’aalil ‘Ibaad)

Di kesempatan lain Nabi pernah menjelaskan kepada para sahabat tentang para malaikat yang pengsan ketika mendengar suara Allah. Rasulullah saw bersabda: “Jika Allah berbicara dengan wahyu, penduduk langit mendengar suara gemerincing seperti rantai yang diseret di atas batu. Mereka pengsan, dan mereka terus-menerus dalam keadaan demikian hingga Jibril mendatangi mereka. Ketika Jibril datang kepada mereka, dicabutlah rasa takut pada hati-hati mereka, seraya bertanya: “Ya Jibril, apa yang telah dikatakan oleh Rabbmu? Jibril menjawab: “Kebenaran”. Maka mereka pun berkata: “Kebenaran, kebenaran”. (Riwayat Abu Dawud)

Cukuplah dua hadis diatas menjadi hujah pada sisi Ahlus Sunnah bahawa Allah berbicara dengan suara, sedangkan suara Allah itu tidak diketahui keadaannya kerana Allah tidak sama dengan makhluknya. Namun untuk mengatakan bahawa Allah berbicara kepada para Nabi tanpa suara, pandangan ini telah dibantah oleh para ulama’ Ahlus Sunnah sejak zaman dahulu.

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku bertanya kepada bapaku tentang satu kaum yang mengatakan bahawa Allah berbicara dengan Musa tanpa suara. Maka bapaku (Imam Ahmad) berkata: “Tidak demikian, sesungguhnya Rabb-mu ‘Azza wa Jalla berbicara dengan suara , hadis-hadis ini kami riwayatkan sebagaimana datangnya.” (Diriwayatkan Abdullah dalam As-Sunnah)

Kemudian Imam Ahmad mengingatkan umat Islam agar tidak terpengaruh dengan faham yang membahagikan perkataan Allah kepada Kalam An Nafsi dan Kalam Al Lafzi. Beliau berkata: “Barangsiapa yang mengatakan al-Qur’an dengan lafas kita adalah makhluk, maka dia termasuk jahmiyah. KeranaAllah telah berfirman: “…. maka lindungilah dia supaya dia sempat mendengarkan firman Allah.” Dari mana mereka mendengar?” (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits)

Oleh itu Syeikul Islam Abu Uthman As Shobuni menjelaskan lebih terperinci dalam kitab aqidahnya tentang masalah ini: “Maka ayat-ayat al Qur’an yang dihafalkan dalam dada, yang dibaca melalui lisan, yang ditulis dalam mushaf, dibaca oleh pembacanya, dilafaskan oleh orang yang melafaskannya, dihafalkan oleh para penghafalnya, di mana ia dibaca dan bila pun dikumandangkannya, dicetak di dalam mushaf kaum muslimin, dicatat dalam papan tulis anak-anak dan lain-lainnya semuanya adalah ucapan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung, bukan makhluk. Barangsiapa yang menganggapnya sebagai makhluk, maka dia telah kafir kepada Allah yang Maha Agung” . (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits)



___________________________
~ Abu Amru ~
Telegram:  https://t.me/rmb_slf
_____________________________





Dapatkan buku Menangkis Fitnah Yang Terpalit Pada Bani Umayyah! Untuk keterangan lanjut sila KLIK DI SINI .

No comments:

Post a Comment